Dua fenomena sosial, stigma dan stereotip mengenai janda adalah masalah sosial yang masih sering jadi bahan perbincangan dimanapun dan kapanpun. Mengapa tidak? Negara Indonesia sendiri merupakan negara demokrasi yang secara tradisi menjunjung tinggi patriarki, terutama dalam kehidupan berumah tangga.
Meskipun masyarakat telah membuat kemajuan dalam pemahaman dan menerima berbagai keberagaman gaya hidup, norma-norma yang sudah ada dan telah tertanam itu seringkali masih menghasilkan persepsi yang tidak baik dan jelas sekali merugikan kelompok janda ini.
Perlu diketahui juga bahwa stigma sendiri terhadap janda mencakup penilaian yang negatif, bersifat diskriminatif berupa perlakuan tidak adil yang mungkin telah dialami oleh beberapa atau sebagian orang dengan status pernikahan yang telah berubah itu. Stigma ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan janda, termasuk dukungan sosial yang, peluang kerja atau karir dan kesehatan mental mereka. Sedangkan stereotip sendiri adalah pandangan umum yang tidak akurat dan berlebih terhadap suatu kelompok. Dalam hal ini, stereotip terhadap janda mencakup anggapan bahwa mereka ada kelompok orang yang lemah, tidak mampu mandiri atau berpotensi sebagai beban bagi masyarakat.
Berdasarkan pernyataan diatas, masyarakat maupun kelompok janda itu sendiri perlu memahami dan melawan bagaimana stigma dan stereotip itu tidak benar, banyak hal yang bisa lakukan baik dari lingkup pemerintahan, lingkungan dan bahwa individu janda itu, yakni sebagai berikut:
Peningkatan kesadaran dan pendidikan akan Janda
Dengan meningkatkan pemahaman tentang keanekaragaman dalam kehidupan terkait janda, dapat membantu meruntuhkan stereotip yang ada. Pemerintah maupun sebuah instansi juga dapat membantu lewat kampanye pendidikan dan kesadaran melalui media sosial, seminar dan bahkan acara komunitas, dengan tujuan menggugah perubahan pola pikir masyarakat itu.
Lakukan narasi positif
Ini dapat diterapkan dalam sebuah media, dimana media memiliki peran penting dalam membentuk pandangan masyarakat, terutama di zaman modern ini. Media dapat memperkenalkan mengenai sosok janda yang berhasil dan tangguh dalam berbagai bidang kehidupan, seperti menonjolkan sosok inspiratif.
Dukungan komunitas
Komunitas yang memberikan dukungan emosional dan praktis kepada janda dapat membantu mereka merasa dihargai dan mampu mandiri. Kelompok pendukung ini dapat menjadi tempat bagi janda untuk berbagi pengalaman, membangun network, dan merasa lebih kuat bersama.
Perubahan dalam kebijakan
Ini juga dapat menjadi bentuk peran aktif dari pemerintahan untuk mengatasi bagaimana stigma dan stereotip mengenai janda dapat berkurang dan beralih ke hal-hal yang cenderung positif. Perubahan kebijakan yang menekankan pada kesetaraan antar tiap orang dalam suatu masyarakat.
Untuk melawan dan mengatasi stigma serta stereotip terhadap janda adalah tugas bersama dalam suatu masyarakat. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan, namun dengan beberapa langkah di atas, sangat diharapkan bahwa peranan setiap manusia itu ada. Merangkul keragaman dalam kehidupan janda dan memastikan bahwa hak dan potensi mereka itu perlu diakui sepenuhnya. Ini bukan hanya langkah untuk menuju inklusi yang lebih besar, melainkan juga untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan lebih manusiawi bagi semua orang.
Cara lainnya yang bisa diterapkan oleh masyarakat adalah dengan mengadakan seminar terkait janda di lingkup sosial. Hal ini bisa dengan mengundang profesional dari biro psikologi berupa seorang psikolog maupun mereka yang ahli untuk menjelaskan bagaimana peranan orang-orang di lingkungan sosial itu berbeda-beda.
Referensi :
Mattlin, Ben. 2018. In Sickness and in Health: Love, Disability, and a Quest to Understand the Perils and Pleasures of Interabled Romance.

Comments
Post a Comment