Sejak zaman dulu hingga sekarang, pandangan orang-orang terhadap sosok ayah adalah seorang yang berwibawa, tegas dan tulang punggung keluarga. Namun, perannya telah mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Dulu mungkin kita terbiasa melihat ayah sebagai pahlawan super yang bekerja keras di luar rumah, sementara ibu mengatur urusan rumah tangga. Tapi sekarang, ayah tidak lagi hanya jadi penghasil utama, dia juga terlibat aktif dalam urusan keluarga dan mendukung perkembangan anak-anak. Nah, bisa jadi ekspektasi sosial yang terlalu tinggi pada peran ayah ini membuatnya merasa tertekan, lho, dan bisa jadi itu juga yang memengaruhi kedekatan emosionalnya dengan anak-anaknya. Adapun beberapa hal lainnya yang dapat menjadi faktor dibalik itu semua, seperti:
Faktor Budaya dan Generasional
Kalau kita bicara soal budaya dan nilai-nilai turun-temurun, ini kayak masuk ke dalam lemari pakaian zaman dulu, deh! Setiap budaya punya pandangannya sendiri mengenai maskulinitas dan femininitas, dan ini bisa berpengaruh besar pada cara ayah memperlakukan anak-anaknya. Jadi, teman-teman, bayangkan saja, kalau budaya mengajarkan bahwa laki-laki harus "keras" dan "tidak menunjukkan emosi", ini bisa bikin hubungan dengan anak-anak jadi terasa lebih dingin. Ditambah lagi, zaman terus berubah, dan kadang norma-norma yang sudah lama dianut pun ikut bergeser. Ini bisa bikin ayah dan anak memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang diharapkan dalam sebuah hubungan keluarga.
Komunikasi dalam Keluarga
Komunikasi, komunikasi dan komunikasi! Ini adalah kunci utama dalam membangun hubungan yang dekat antara ayah dan anak. Tanpa komunikasi yang baik, rasanya seperti berbicara dengan hantu, kan? Nah, hambatan-hambatan komunikasi ini bisa bermacam-macam, mulai dari kesibukan ayah yang padat, sampai kurangnya kepercayaan diri dalam mengungkapkan perasaan. Jadi, seringkali apa yang ingin disampaikan terasa tersangkut di tenggorokan, dan hubungan pun terasa jauh. Ingat, teman-teman, ceritakanlah perasaan dan pikiran kita, agar jarak emosional ini bisa semakin mengecil!
Persepsi Diri dan Kecenderungan Psikologis
Nah, sebenarnya ini kembali lagi pada bagaimana ayah melihat dirinya sendiri dan perannya dalam keluarga, karena ini bisa sangat mempengaruhi segalanya, lho! Kalau dia merasa dia "harus" tampil kuat dan tak tergoyahkan, bisa jadi itu membuatnya sulit menunjukkan sisi lembutnya kepada anak-anak. Kecenderungan psikologis ini bisa seperti jebakan dalam pikiran yang sulit diubah, tapi tentu saja, kita bisa melalui ini dengan dukungan dan pemahaman.
Pengalaman Pribadi dan Trauma Tersembunyi
Siapa yang pernah dengar ungkapan "the past shapes the future"? Yup, pengalaman pribadi ayah dalam hidupnya, entah itu masa kecil yang sulit atau peristiwa traumatis, bisa berdampak besar pada hubungan dengan anak-anaknya. Kalau dia pernah mengalami hal-hal yang menyakitkan, bisa jadi dia takut mengulanginya dan memilih untuk menjaga jarak emosional. Bahkan, trauma yang mungkin sudah lama terpendam dan tersembunyi bisa memainkan peran dalam menjauhkan ayah dari kedekatan emosional dengan anak-anak.
Pola Keluarga dan Hubungan Lainnya
Pola interaksi dalam keluarga bisa membentuk fondasi bagi hubungan antara ayah dan anak. Jika keluarga seringkali berkomunikasi dengan "distansi" emosional, ini bisa saja terbawa dalam hubungan antara ayah dan anak. Begitu juga dengan hubungan ayah dengan pasangannya; jika komunikasi dengan pasangan tak lancar, bisa jadi ini ikut memengaruhi kemampuan ayah dalam menjalin komunikasi dengan anak-anaknya.
Well, jangan khawatir! Kita tidak akan terus berada dalam misteri ini tanpa akhir. Ada solusi-solusi yang bisa diambil untuk mengatasi jarak emosional antara ayah dan anak. Salah satu kuncinya adalah komunikasi terbuka. Ayah dan anak perlu saling mendengarkan, mendukung, dan menghargai perasaan satu sama lain. Ini bukan tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang memahami dan menghormati perasaan masing-masing.
Jadi, mari kita tidak berhenti di sini. Mari kita memahami, mendukung, dan membangun kedekatan emosional yang kuat dalam keluarga kita sendiri. Ingatlah, kita bisa mengatasi misteri ini dengan cinta, pengertian, dan upaya nyata.
Referensi :
Stringer, Jay. 2017. Breaking the Cycle of Father Wound: A Model of Ministry to Men.

Comments
Post a Comment