Apakah quiet quitting bersifat toxic?

Quiet Quitting Relationship Sama Dengan Toxic Relationship ? 


                               


Kalau ditanya apakah quiet quitting termasuk dalam kategori toxic relationship atau bukan? Jawabannya yes! Tapi dalam konteks toxic, quiet quitting sendiri bukanlah karakteristik utama dari hubungan yang toxic. Lebih tepatnya, Quiet Quitting bisa menjadi tanda awal atau dampak dari hubungan yang toxic itu. Ketika salah satu pihak merasa tidak nyaman atau terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, mereka mungkin mulai menarik diri secara perlahan, seperti dalam Quiet Quitting.


Dalam hubungan yang toxic, salah satu pihak mungkin merasa terjebak dalam dinamika yang tidak sehat. Mereka mungkin merasa diabaikan, tidak dihargai, atau bahkan disalahgunakan. Hal ini bisa membuat mereka merasa perlu untuk menjaga jarak emosional untuk melindungi diri mereka sendiri.


Contohnya saja, seseorang yang merasa dalam hubungan yang manipulatif atau mengendalikan mungkin mulai melakukan Quiet Quitting untuk menghindari konfrontasi atau potensi konflik. Begitu juga, dalam hubungan yang penuh dengan ketidakamanan atau ketidakpercayaan, seseorang mungkin mulai menarik diri secara emosional untuk melindungi diri dari rasa sakit.


lalu bagaimanakah cara mengatasi quiet quitting yang menjadi sebuah awalan toxic relationship ? Jika Quiet Quitting muncul dalam hubungan yang toxic, penting untuk menghadapinya dengan bijaksana. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:


Pahami Akar Masalah

Ketika kamu mulai merasa pasanganmu menjauh secara emosional atau kamu sendiri merasa cenderung menarik diri, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mencoba menggali akar masalahnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada situasi tertentu atau dinamika dalam hubungan yang membuatmu atau pasangan merasa perlu melakukannya?


Misalnya, kamu bisa bertanya pada dirimu sendiri, "Apakah ini karena adanya konflik yang tidak terselesaikan? Apakah ada masalah komunikasi? Atau apakah mungkin ini adalah respons terhadap kepercayaan yang rusak atau bahkan kekerasan dalam hubungan?" Dengan memahami akar masalahnya, kamu bisa mendapatkan wawasan yang lebih jelas tentang mengapa Quiet Quitting terjadi.


Cari Bantuan Profesional

Saat merasa hubunganmu telah memasuki zona toxic dan Quiet Quitting menjadi tanda yang mengkhawatirkan, tidak ada yang salah dengan mencari bantuan. Ini adalah momen penting untuk berbicara dengan seseorang yang ahli dalam masalah ini. Bantuan profesional dari terapis atau konselor adalah langkah berani yang bisa membuka pintu solusi.


Terapis atau konselor memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengatasi masalah hubungan, termasuk dalam situasi yang toxic. Mereka bisa menjadi pendengar netral yang membantu kamu memahami dinamika hubungan, mengidentifikasi masalah yang mendasarinya, dan memberikan panduan tentang bagaimana menghadapi situasi ini dengan bijaksana.


Komunikasi Terbuka

Apapun situasinya, komunikasi yang terbuka dan jujur adalah langkah awal yang sangat penting dalam mengatasi masalah dalam hubungan. Jika kamu merasa Quiet Quitting muncul karena ada masalah yang tidak terselesaikan, cobalah untuk berbicara dengan pasangan tentang perasaanmu. Buatlah waktu untuk berbicara dengan tenang dan saling mendengarkan.


Ingat, komunikasi yang baik bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang mendengarkan. Dengan mendengarkan secara penuh perhatian, kamu bisa menciptakan ruang untuk memahami perspektif pasangan dan bersama-sama mencari solusi yang memuaskan untuk kedua belah pihak.


Beri Prioritas Kesehatan Emosional

Terakhir, tapi tak kalah penting, adalah menjaga kesehatan emosionalmu. Jika hubunganmu terlalu toxic dan merugikan kesehatanmu, kamu harus memberikan prioritas pada dirimu sendiri. Terkadang, melindungi diri sendiri bisa berarti menjauh dari hubungan yang tidak sehat.



Ingat, hubungan yang sehat seharusnya memberikan dukungan, kebahagiaan, dan rasa aman. Jika kamu merasa hubunganmu mengambil lebih banyak energi daripada memberikan kebahagiaan, pertimbangkan untuk mencari dukungan dari teman, keluarga, atau profesional, dan jika perlu, mengambil langkah-langkah untuk menjaga dirimu sendiri.




Referensi : 


Perel, Esther. 2022. The State of Affairs: Rethinking Infidelity.

Comments